
IDNEWS, Tombariri - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Desa Tambala, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, muncul sosok Hamka Naya yang menjadi idola warganya. Sebagai hukum tua, pria ramah ini bukan sekadar pemimpin formal, melainkan sahabat masyarakat yang siap hadir kapan pun dibutuhkan entah di rumah sakit, warung makan, atau pinggir jalan. Dedikasinya ini patut dijadikan panutan bagi hukum tua lain di negeri ini.
Hamka Naya dikenal sangat peka terhadap kebutuhan warganya, terutama urusan administrasi kependudukan. Ia tak segan meninggalkan rutinitas kantor desa demi melayani langsung. "Saya selalu siap melayani masyarakat kapan pun dan di mana pun mereka membutuhkan. Kantor desa bukan batas, tapi hati nurani yang bicara. Jika warga sakit atau sibuk, saya yang datang ke mereka," ujar Hamka Naya dengan tegas saat ditemui media ini di sebuah rumah kopi sederhana di kompleks pasar Tanawangko, Rabu, 14/1/2026.
Bukti nyata dedikasinya terlihat belakangan ini. Pada 5 Januari 2026, Hamka Naya menyempatkan diri mengunjungi warga yang dirawat di Rumah Sakit dr. Awaloei Tateli, Kecamatan Mandolang. Tak berhenti di situ, keesokan harinya, 6 Januari 2026, ia melayani permohonan surat keterangan di sebuah rumah makan di kompleks Pasar Tanawangko jauh dari kantor desa. Langkah ini bukan kebetulan, melainkan komitmen untuk memudahkan birokrasi bagi warga yang terbatas waktu atau mobilitas.
Warga Desa Tambala pun tak henti memuji. "Kami sangat terbantu oleh pelayanan Pak Hamka. Tak perlu repot ke kantor desa; cukup hubungi beliau, langsung dilayani di mana saja kami berada. Ini bener-bener meringankan beban kami," ungkap salah seorang warga yang enggan disebut namanya, sambil tersenyum lega.
Kisah Hamka Naya mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati lahir dari empati, bukan jabatan. Di era digital yang serba cepat, model pelayanan seperti ini justru menjadi angin segar bagi masyarakat pedesaan Minahasa.


